Rabu, 20 Februari 2013

Ku dengar kau dari sini Part 1

Tavia.
Malam ini, dia sendiri lagi, menikmati hujan yang turun. Dari jendela kamar, dia bersenandung, mengingat tentang apa yang akan terjadi lagi esok. "Besok, aku pasti bisa melewatinya lagi." gumam Tavia. Tavia tak pernah tahu apa yang ada dibalik hatinya, Tavia sebenarnya berbohong jika dia berkata semua masalahnya tentang hati sudah selesai, dia menyimpannya sendiri, dia tak ingin berbagi. Tavia sudah kehilangan pendengaran. Diakibatkan ada benda tajam masuk ke gendang telinganya dan membuatnya tak bisa mendengar lagi, semenjak kecelakaan itu, dia menjadi trauma, truma yang sangat mendalam, dia bahkan memilih untuk berhenti mengikuti les vokal yang sudah melekat pada dirinya.

Tavia punya cara sendiri untuk mendengarkan orang yang sedang berbicara dengannya, dia tidak menggunakan alat bantu dengar, tapi dia mencoba mengeja langsung dari mulut si pembicara. Kecuali di dalam kelas, Tavia menggunakan alat bantu dengar.

Dani.
"Aku gak mau, punya pacar yang gak bisa dengar" ucap Dani di depan teman-temannya pagi itu. Ya, Dani adalah pacar Tavia, atau lebih tepatnya mantan. Dani meninggalkan Tavia sejak kecelakaan itu, sejak Dani tau kalau pendengaran Tavia rusak. Dani memilih meninggalkan Tavia karena Dani takut akan menyakiti Tavia lebih jauh lagi, Dani takut dia tidak bisa mencintai Tavia seperti sebelumnya, ketika Tavia masih sempurna. Malam itu, Dani meninggalkan Tavia dengan bunga yang ada di samping tempat tidur kamar Tavia, di dalam bunga itu, ada sebuah kartu yang berisi tulisan 'Aku sayang kamu, dan aku ga mau nyakitin kamu lebih dalam - Dani' dan semenjak Dani mengirimkan bunga dan surat itu pada Tavia, Dani pun merasa hubungan mereka sudah berakhir.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Siang itu, Tavia sedang sibuk dengan iPad yang berada di tangannya, dia sedang menulis apa yang dia rasakan.
"Tav, lagi apa? Makan, yuk?" Rayya berbicara dengan pelan, dan ekspresi bibir yang bisa diartikan oleh Tavia.
"Bentar lagi ya, duluan aja." Tavia menjawab ceria.
"Aku nunggu di depan kelas ya." Rayya menyeruai lagi.
Rayya berjalan keluar dengan gaya jalan bak model, dengan rambut pirang terurai, mata yang seharusnya hitam itu, kini menjadi biru dihiasi softlens, bibir merah merekah, dan dengan pipi sedikit bedak yang tebal eye shadow, jari manisnya terselip cincin peace, ditangannya juga ada gelang peace, menandakan dia selalu belanja di online shop.
Berbeda sekali dengan Tavia, Tavia tidak pernah mengikuti style anak jaman sekarang, dia selalu natural, tidak pernah mewarnai rambut, memakai softlens, ataupun make-up. Apalagi belanja online shop, itulah yang membuat Dani bertekuk lutut pada Tavia.
Di pertengahan jalan menuju kantin, Tavia seperti merasa de-javu, Tavia melewati perpustakaan, tempat Tavia dan Dani sering menghabiskan waktu berdua, Tavia juga melewati taman belakang sekolah yang selalu di gunakan untuk makan siang bersama Dani. Belum lagi, dia harus melewati labor bahasa, tempat pertama kali Dani menyatakan cinta pada Tavia.
Tavia merasa kacau.
Kepalanya hampir meledak.
Dan akhirnya? Tavia pingsan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di ruang Unit Kesehatan Sekolah atau UKS sepi sekali, hanya Tavia dan seorang lelaki. Tavia kebingungan, siapa lelaki ini? Dan mengapa dia disini?
Tavia mencoba bangun, dan tidak sengaja menyenggol lengan lelaki tersebut.
"Eh, udah bangun? Bagus deh, tadi kamu pingsan, trus itu temen kamu siapa namanya? Panik banget, jadi kebetulan aku ada disana, dia minta tolong gendong kamu, trus karena aku emang anggota kesehatan sekolah, jadi aku jagain kamu deh." Raka menjelaskan apa yang terjadi.
Tavia tak bisa menangkap apa yang dikatakan, dia mencoba mengucap nama Rayya.
"Rayya?" Tavia menjawab sesekali menggaruk kepalanya.
"Iya, Rayya tadi yang minta tolong. Gimana keadaannya? Udah baikan?"
Lagi lagi. Tavia tak mengerti apa yang diucapkan oleh lelaki ini. Lelaki itu berbicara dengan intonasi cepat, Tavia tak kehabisan akal.
"Aku balik ke kelas ya, makasih udah jagain aku." Tavia berkata sambil tersenyum ringan dan membalikan badan, lalu menghilang.
Lelaki itu tetap berada di dalam ruang UKS, dia tak tahu, bahwa Tavia tak mendengar apa yang dikatakannya sedari dia mengajak Tavia berbicara.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar